Subbab 1.1.4: Cahaya Mimpi Hakiki (Ar-Ru'ya Ash-Shalihah)
Mendekati masa keterutusannya sebagai nabi pada bulan-bulan terakhir sebelum peristiwa Gua Hira, Muhammad bin Abdullah mulai mengalami fase transisi spiritual yang amat lembut namun pasti. Allah tidak langsung menurunkan wahyu secara drastis melalui wujud fisik Malaikat Jibril, melainkan melatih dan menyiapkan mental calon Rasul-Nya terlebih dahulu melalui fenomena ru'yah sadiqah/shalihah—mimpi-mimpi yang benar (Al-Bukhari, No. 3).
Mimpi Sebening Terbitnya Fajar
Aisyah radhiyallahu 'anha meriwatkan secara rinci bagaimana fase awal kenabian ini dimulai:
"Permulaan wahyu yang diterima oleh Rasulullah ï·º adalah berupa mimpi yang benar (ar-ru'ya ash-shalihah) dalam tidur. Tidaklah beliau bermimpi melainkan mimpi itu datang (terbukti) sangat nyata terang-benderang bagaikan fajar di pagi hari." (Al-Bukhari, No. 3; Muslim, No. 160).
Setiap kali Muhammad melihat sesuatu dalam mimpinya saat tidur, peristiwa tersebut benar-benar terjadi di dunia nyata persis sebagaimana yang beliau lihat, tanpa ada perbedaan sedikit pun. Jika beliau bermimpi bertemu seseorang, melihat suatu kejadian di Makkah, atau mendapatkan petunjuk tertentu, maka besok harinya kejadian itu terbukti dengan presisi yang sempurna.
Fase mimpi hakiki ini berlangsung selama kurang lebih enam bulan (Al-Mubarokfuri, 2021). Dalam konteks proporsi kenabian, Rasulullah ï·º kelak menjelaskan bahwa mimpi yang benar dari seorang yang saleh adalah satu dari empat puluh enam bagian dari kenabian ($1/46$). Masa enam bulan mimpi hakiki ini merupakan $1/46$ dari total masa kenabian beliau yang berlangsung selama 23 tahun (6 bulan : 23 tahun = 1 : 46) (Ibn Hajar, 2001).
Pentingnya Masa Transisi Spiritual
Fase enam bulan mimpi hakiki ini memegang peranan krusial dalam psikologi kenabian:
- Penyelarasan Gelombang Jiwa: Wahyu Ilahi adalah entitas yang amat berat (qaulan thaqila). Tubuh dan jiwa manusia biasa tidak akan mampu menanggung beban kontak langsung dengan alam malaikat tanpa persiapan. Mimpi yang terbukti nyata menjadi sarana transisi agar jiwa Muhammad terbiasa menerima sinyal-sinyal gaib dari alam atas.
- Penguatan Keyakinan Batin: Fenomena mimpi yang terus-menerus menjadi kenyataan membangun kepastian di dalam hati Muhammad bahwa ada kekuatan Mahakuasa yang sedang menuntun dan berkomunikasi dengan jiwanya. Ini mengikis rasa ragu dan memunculkan kesadaran penuh akan adanya tugas agung yang sedang mendatangi beliau.
- Sinyal Alam Semesta: Pada periode ini pula, beberapa riwayat mencatat keberadaan sinyal-sinyal mukjizat di sekitar beliau. Rasulullah ï·º kelak bersabda: "Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Makkah yang dahulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Nabi. Sungguh aku mengingatnya sekarang." (Muslim, No. 2277).
Fajar Pembuka Pertemuan Agung
Mimpi-mimpi yang terang bagaikan fajar pagi ini makin mempertebal kerinduan Muhammad untuk mengasingkan diri. Keterhubungan beliau dengan alam gaib melalui mimpi tidak membuat beliau puas, melainkan justru semakin memperhalus kepekaan batinnya.
Ketika jiwa beliau telah sepenuhnya siap, cermin hatinya telah bersih tanpa noda, dan kepastian batin telah terhimpun utuh melalui fase enam bulan ini, masa persiapan pun berakhir. Tanda-tanda di alam mimpi akan segera berganti dengan kenyataan fisik. Di puncak keheningan bulan Ramadhan di Gua Hira, bayang-bayang transisi itu menyatu menjadi realitas ketika sesosok makhluk cahaya benar-benar menampakkan diri di hadapan beliau.
Referensi / Daftar Pustaka
- Al-Bukhari, M. I. (2002). Shahih Al-Bukhari. Riyadh: Dar Al-Salam.
- Al-Mubarokfuri, S. R. (2021). Ar-Rahiq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Lengkap). Jakarta: Rabbani Press.
- Ibn Hajar Al-'Asqalani, A. (2001). Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cairo: Dar Al-Hadith.
- Muslim, I. H. (2006). Shahih Muslim. Riyadh: Dar Al-Thibah.
Komentar
Posting Komentar