Subbab 1.1.2: Kerinduan Jiwa Sang Hanif
Di tengah kepungan tradisi Jahiliyah dan riuhnya pasar berhala Kota Makkah, tumbuh seorang pemuda yang perilakunya bertolak belakang dengan arus zamannya. Muhammad bin Abdullah tumbuh sebagai sosok yang terjaga (ma'shum) dari noktah kebiasaan buruk bangsanya. Ketika pemuda sebayanya larut dalam pesta minuman keras, perzinaan, dan persembahan berhala, nurani Muhammad menolak keras segala bentuk penyimpangan tersebut (Ibn Hisham, 2000).
Keagungan akhlak, kejujuran, serta kepedulian sosialnya yang melintasi batas kabilah membuat masyarakat Makkah memberi beliau julukan Al-Amin—sosok yang paling tepercaya (Al-Mubarokfuri, 2021). Namun, gelar kehormatan dan kenyamanan hidup di tengah penghormatan elit Quraisy tidak lantas menenangkan gejolak di dalam dadanya.
Pencegahan Ilahi (Inayah) dan Penjagaan Kesuci jiwa
Ketidakikutsertaan Muhammad dalam tradisi Jahiliyah bukanlah kebetulan belakangan, melainkan hasil dari pemeliharaan Ilahi ('inayah) yang membentenginya sejak dini. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ï·º menceritakan bagaimana Allah membentengi dirinya sewaktu muda ketika terbersit keinginan untuk menghadiri pesta malam pemuda Quraisy: Allah menjatuhkan rasa kantuk yang sangat berat kepadanya hingga ia tertidur sampai terbit fajar, menyebabkannya terhindar dari maksiat tersebut (Al-Hakim, 1990).
Penjagaan ini membentuk jiwa yang sangat peka terhadap kesucian. Muhammad merasakan ketidaknyamanan batiniah yang mendalam setiap kali melihat pemotongan hewan kurban untuk berhala atau mendengar sumpah atas nama Lata dan Uzza. Beliau menolak menyentuh patung-patung tersebut, bukan karena dorongan doktrin yang ia pelajari dari manusia, melainkan karena naluri fitrahnya yang menolak syirik secara alamiah (At-Thabari, 2001).
Jejak-Jejak Hunafa': Pencari Kebenaran di Lembah Makkah
Muhammad bukanlah satu-satunya jiwa yang merasa asing dengan agama berhala. Di Makkah terdapat kelompok kecil yang dikenal sebagai kaum Hunafa' (bentuk jamak dari Hanif, yang berarti lurus atau cenderung pada kebenaran). Mereka adalah orang-orang yang menolak penyembahan berhala dan berusaha mempertahankan sisa-sisa ajaran Tauhid Nabi Ibrahim AS (Ibn Kathir, 2011).
Di antara tokoh Hunafa' yang terkenal adalah Zaid bin 'Amr bin Nufail dan Waraqah bin Naufal. Zaid secara terang-terangan mengecam kebiasaan Quraisy memakan daging yang disembelih untuk berhala dan menentang tradisi penguburan bayi perempuan (Al-Bukhari, No. 3828). Meskipun Muhammad berinteraksi dengan dinamika pemikiran kaum Hunafa', pencarian jiwa beliau melampaui sekadar wacana kritik sosial. Beliau merindukan bentuk peribadatan yang sejati dan terhubung langsung dengan Sang Pencipta—sebuah kerinduan spiritual yang belum menemukan bentuk formulasi hukumnya.
Gelisah Sosial dan Kerinduan pada Keadilan
Kerinduan jiwa Sang Hanif tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga sangat kental dengan dimensi sosial. Gejolak batin Muhammad semakin memuncak saat menyaksikan ketimpangan hukum yang menimpa masyarakat lemah. Salah satu bukti keterlibatan aktif beliau dalam pergerakan keadilan sebelum kenabian adalah keikutsertaannya dalam Hilf al-Fudhul (Sumpah Kehormatan)—sebuah pakta pertahanan sosial yang dibentuk di rumah Abdullah bin Jud'an untuk membela siapa pun yang terzalimi di Makkah, baik warga lokal maupun pedagang asing (Ibn Hisham, 2000).
Di kemudian hari, setelah diangkat menjadi Nabi, Rasulullah ï·º mengenang pakta keadilan pra-Islam tersebut dengan bersabda:
"Aku telah menyaksikan di rumah Abdullah bin Jud'an suatu perjanjian yang aku tidak ingin menukarnya dengan unta merah. Seandainya aku diundang untuk menghadiri perjanjian serupa pada masa Islam, niscaya aku akan memenuhinya." (Al-Bayhaqi, 2003).
Menuju Ambang Pintu Keheningan
Mendekati usia empat puluh tahun, kegelisahan spiritual dan kemanusiaan di dalam dada Muhammad mencapai puncaknya. Beliau melihat potensi besar bangsanya yang terbuang sia-sia dalam belenggu kesesatan, namun beliau belum memiliki "alat" atau petunjuk langit untuk mengubah tatanan tersebut. Beliau berada pada posisi seorang pencari yang mengagungkan Sang Pencipta, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyembah-Nya dengan benar.
Kerinduan akan kebenaran yang hakiki dan kejenuhan atas kebisingan moral Makkah secara perlahan menarik jiwa Muhammad keluar dari riuk keramaian kota. Hatinya mulai dituntun oleh Allah untuk menyukai kesendirian (hubbiba ilaihil khala'). Sebuah dorongan gaib yang kelak menuntun langkah kakinya mendaki tebing-tebing terjal Bukit Jabal Nur, menuju sebuah rongga gua kecil yang sunyi—Gua Hira.
Referensi / Daftar Pustaka
- Al-Bayhaqi, A. H. (2003). Sunan Al-Kubra. Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah.
- Al-Bukhari, M. I. (2002). Shahih Al-Bukhari. Riyadh: Dar Al-Salam.
- Al-Hakim, M. A. (1990). Al-Mustadrak 'ala Al-Shahihain. Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah.
- Al-Mubarokfuri, S. R. (2021). Ar-Rahiq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Lengkap). Jakarta: Rabbani Press.
- At-Thabari, I. J. (2001). Tarikh al-Umam wa al-Muluk (Tarikh At-Thabari). Beirut: Dar Al-Fikr.
- Ibn Hisham, A. M. (2000). As-Sirah An-Nabawiyyah li Ibn Hisham. Cairo: Dar Al-Hadith.
- Ibn Kathir, I. O. (2011). Al-Bidayah wa an-Nihayah. Cairo: Dar Hijr.
Komentar
Posting Komentar